Kamis, 10 Juni 2010

lalat tse tse

African Trypanosomiasis


I. AFRICAN TRYPANOSOMIASIS

1. Identifikasi
Merupakan penyakit protozoa sistemik. Stadium awal penyakit ditandai dengan terbentuknya ulcus (Chancre) yang sakit sekali yang pada awalnya berkembang dari papula menjadi nodula. Gejala-gejala ini ditemukan pada tempat gigitan lalat tse tse. Gejala lain yang ditemukan adalah demam, sakit kepala yang amat sangat, insomnia, pembengkakan kelenjar limfe tanpa disertai rasa sakit, berat badan menurun, somnolen dan tanda-tanda lain SSP. Penyakit gambiense (ICD9 086.3; ICD-10 B56.0) bisa berlangsung bertahun tahun; sedangkan penyakit rhodesiense (ICD-9 086.4; ICD-10 B56.1) lethal dalam beberapa minggu atau dalam beberapa bulan jika tidak diobati. Kedua bentuk penyakit ini fatal jika tidak diobati.
Diagnosa ditegakkan dengan ditemukannya trypanosoma didalam darah, cairan limfe atau LCS. Untuk penyakit jenis gambiense diperlukan teknik konsentrasi parasit seperti sentrifugasi dengan tabung kapiler, “Quantitative Buffy Coat” (QBC) atau dengan “minianion exchange centrifugation”. Teknik-teknik ini jarang digunakan pada penyakit jenis rhodesiense.
Untuk penyakit jenis rhodesiense terkadang digunakan teknik inokulasi pada tikus percobaan. Spesimen yang diambil dari aspirat kelenjar limfe membantu ditemukannya parasit. Antibodi spesifik dapat diketahui dengan menggunakan teknik pemeriksaan ELISA, IFA dan tes aglutinasi. Titer imunoglobulin yang tinggi terutama IgM umum ditemukan pada penderita tripanosomiasis Afrika “Circulating antigen” dapat dideteksi dengan menggunakan berbagai teknik pemeriksaan imunologis seperti dengan kartu Tryp Tech CIATT, tes aglutinasi tidak langsung.

2. Penyebab Penyakit
Penyebab penyakit adalah Trypanosoma brucei gambiense dan T.b. rhodesiense, flagelata darah. Kriteria untuk diferensiasi spesies tidaklah mutlak; isolat yang diambil dari kasus virulen dengan perjalanan penyakit yang sangat progresif dianggap sebagai T. B rhodesiense, terutama apabila infeksi terjadi di Afrika bagian timur. Sedangkan jika infeksi didapatkan di Afrika bagian barat dan tengah, biasanya perjalanan penyakit lebih kronis biasanya disebabkan oleh T.b. gambiense.

3. Distribusi Penyakit
Penyakit ini menyebar didaerah tropis benua Afrika antara 150LU dan 200LS, sesuai dengan daerah penyebaran lalat tsetse. Di daerah endemis 0,1% - 2% penduduk terineksi. Pada saat terjadi KB prevalensi penyakit ini bisa mencapai 70%. KLB dapat terjadi apabila karena sesuatu hal terjadi peningkatan intensitas kontak antara manusia dan lalat tsetse atau strain tripanosoma yang virulen masuk kedaerah dimana densitas lalat tsetse sangat padat. Masuknya strain virulen dimungkinkan oleh karena adanya pergerakan hospes manusia atau lalat tsetse yang terinfeksi ke suatu daerah. Lalat Glossina palpalis merupakan vector utama, dibagian barat dan bagian tengah Afrika. Infeksi biasanya terjadi disepanjang aliran sungai atau anak sungai yang berbatasan dengan daerah yang berhutan.
Di Afrika bagian timur dan danau victoria vector utamanya adalah kelompok G. Morsitans, infeksi terjadi didaerah savana yang kering.
G. fuscipes yang termasuk dalam kelompok palpalis merupakan vector penular penyakit pada saat KLB penyakit tidur jenis rhodiense yang terjadi di Kenya dan Zaire dan vector ini juga sejak tahun 1976 diketahui sebagai vector pada penularan peridomestik di Uganda.

4. Reservoir: Untuk T.b. gambiense, manusia merupakan reservoir utama, sedangkan peranan binatang peliharaan dan binatang buas sebagai reservoir tidak jelas. Binatang buas terutama babi hutan dan sapi peliharaan merupakan reservoir utama T.b. rhodiense.

5. Cara Penularan: Penularan terjadi melalui gigitan lalat tsetse Glossina infektif. Di alam terdapat 6 spesies yang berperan sebagai vektor utama, G. Palpalis, G. Tachinoides, G. Morsitans, G. Pallidipes, G. Swynnertoni dan G.fuscipes. Lalat tsetse terinfeksi karena menghisap darah manusia atau binatang yang mengandung trypanosoma.
Parasit berkembang biak dalam tubuh lalat selama 12-30 hari, tergantung pada suhu dan faktor-faktor lain, sampai terjadi bentuk infektif didalam kelenjar-kelenjar ludahnya. Sekali terinfeksi lalat tsetse akan tetap infektif selama hidupnya (rata-rata 3 bulan, bisa sampai 10 bulan). Infeksi pada lalat tidak diturunkan ke generasi lalat berikutnya.

Penularan kongenital dapat terjadi pada manusia. Penularan langsung secara mekanis dapat terjadi melalui darah pada probosis Glossina dan serangga penggigit lainnya, seperti lalat kuda, atau karena kecelakaan di laboratorium.

6. Masa Inkubasi
Masa inkubasi infeksi T.b. rhodiensiense yang lebih virulen, biasanya 3 hari sampai dengan beberapa minggu. Masa inkubasi infeksi T.b gambiense yang lebih kronik, berlangsung lebih lama yaitu beberapa bulan sampai bahkan beberapa tahun.

7. Masa Penularan
Penularan kepada lalat tsetse terjadi selama ada parasit didalam darah manusia dan hewan yang terinfeksi. Parasitemia muncul dengan intensitas bervariasi pada saat-saat tertentu pada kasus-kasus yang tidak di obati, parasitemia terjadi pada semua stadium tahapan penyakit. Pada suatu penelitian yang dilakukan terhadap penyakit rhodesiense, parasitemia ditemukan hanya pada 60 % kasus infeksi.

8. Kerentanan dan kekebalan
Semua orang rentan terhadap penyakit ini. Kadang kala terjadi infeksi tanpa gejala baik pada infeksi T b. Gambiense maupun infeksi T.b. rhodesiense. Pernah ada yang melaporkan bahwa ada penderita dengan infeksi jenis gambience tanpa gejala SSP yang sembuh spontan namun laporan ini belum terbukti kebenarannya.

9. Cara-cara pemberantasan
A. Cara-cara Pencegahan
Memilih cara pencegahan yang tepat harus di dasari pada pengetahuan dan pengenalan ekologi dari vektor dan penyebab penyakit disuatu wilayah. Dengan pengetahuan tersebut, maka suatu daerah dengan keadaan geografis tertentu, dapat dilakukan satu atau beberapa langkah berikut sebagai langkah prioritas dalam upaya pencegahan :
1). Berikan Penyuluhan kepada masyarakat tentang cara-cara perlindungan diri terhadap gigitan lalat tsetse.
2). Menurunkan populasi parasit melalui survei masyarakat untuk menemukan mereka yang terinfeksi, obati mereka yang terinfeksi.
3). Bila perlu hancurkan habitat lalat tsetse, namun tidak dianjurkan untuk menghancurkan vegetasi secara tidak merata. Membersihkan semak-semak dan memotong rumput disekitar desa sangat bermanfaat pada saat terjadi penularan peridomestik. Apabila pada wilayah yang telah dibersihkan dari vegetasi liar dilakukan reklamasi dan dimanfaatkan untuk lahan pertanian maka masalah vektor teratasi untuk selamanya.
4) Mengurangi kepadatan lalat dengan menggunakan perangkap dan kelambu yang sudah dicelup dengan deltametrin serta dengan penyemprotan insektisida residual (perythroid sintetik 5%, DDT, dan dieldrin 3% merupakan insektidida yang efektif). Dalam situasi darurat gunakan insektisida aerosol yang disemprotkan dari udara.
5) Melarang orang-orang yang pernah tinggal atau pernah mengunjungi daerah endemis di Afrika untuk menjadi donor darah.

B. Pengawasan penderita, kontak dan lingkungan sekitarnya
1) Laporan kepada Instansi Kesehatan setempat : Di daerah endemis tertentu, kembangkan sistem pencatatan dan pelaporan. Dan galakkan upaya pencegahan dan pemberantasan. Disebagian besar negara penyakit ini bukan penyakit yang wajib di laporkan kelas 3 B (lihat tentang pelaporan Penyakit Menular).
2) Isolasi: Tidak dilakukan. Cegahlah agar lalat tsetse tidak menggigit penderita trypanosomiasis. Di beberapa negara, diberlakukan peraturan pembatasan gerak dari pasien-pasien yang tidak diobati.
3) Disinfeksi serentak: Tidak dilakukan
4) Karantina: Tidak dilakukan
5) Imunisasi terhadap kontak: Tidak dilakukan
6) Investigasi kontak dan sumber infeksi : Bila penderita merupakan anggota dari rombongan wisatawan merupakan anggota dari rombongan wisatawan, maka anggota lain dari rombongan tersebut harus diberi tahu agar berhati-hati dan terhadap mereka dilakukan investigasi.
7) Pengobatan spesifik: Bila tidak terjadi perubahan gambaran sel dan kadar protein pada LCS, suramin merupakan obat pilihan untuk infeksi T.b. rhodiense dan pentamidine untuk infeksi T.b. gambiense. Namun obat-obat ini tidak dapat menembus barier darah otak.
T.b. rhodesiense, mungkin sudah resistens terhadap pentamidine, Melarsoprol (Mel-B®) telah digunakan dengan hasil yang sangat efektif untuk mengobati pasien dengan gambaran LCS abnormal untuk semua jenis parasit, namun efek samping yang berat mungkin dapat terjadi pada 5 % - 10 % dari penderita.
Suramin dan melarsoprol bisa didapatkan dan tersedia di Depot Farmasi CDC Atlanta untuk tujuan penelitian. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa Eflornithin (difluoromethylornithine (DFMO), Ornidyl®) lebih baik digunakan untuk pengobatan penyakit gambiense SSP, obat ini sejak tahun 1999 tidak ada dalam persediaan lagi di CDC Atlanta dan penyediaan obat ini oleh WHO dimasa yang akan datang tidak dapat dipastikan. Terhadap semua penderita yang sudah diobati harus dilakukan pemeriksaan ulang 3, 6 dan 24 bulan setelah pengobatan untuk mencegah kemungkinan relaps.

C. Penanggulangan Wabah
Dalam keadaan KLB lakukkan survei massal yang terorganisasikan dengan baik dan berikan pengobatan bagi penderita yang ditemukan serta lakukan pengendalian lalat tsetse.
Bila terjadi lagi KLB di daerah yang sama walaupun sudah melaksanakan upaya-upaya pemberantasan, maka upaya-upaya yang tercantum pada butir 9A harus dilakukan dengan lebih giat.

D. Implikasi bencana: Tidak ada.

E. Penanganan Internasional :
Meningkatkan upaya kerjasama lintas sektor di daerah endemis. Penyebar luasan informasi dan meningkatkan tersedianya bahan dan alat diagnosa sederhana untuk skrining dan upaya sederhana pengendalian vektor.
Kembangkan sistem yang efektif pendistribusian reagen dan obat-obatan. Kembangkan sistem pelatihan pada tingkat nasional dan internasional. Manfaatkan pusat-pusat kerjasama WHO.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar